Oleh: vanrenov | Juli 30, 2012

SAMBUTAN GUBERNUR

SAMBUTAN

GUBERNUR SUMATERA BARAT

 

PADA SEMINAR

 “KRISIS KEUANGAN GLOBAL TERHADAP  DAMPAK DAN PENGARUHNYA BAGI

PEREKONOMIAN SUMATERA BARAT”

 

 

 

PADANG, 4 DESEMBER 2008

 

Assalammu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

 

Yth. Ibu Menteri Keuangan.

Yth. Bapak Direktur Bank Indonesia

Yth. Saudara-Saudara Bupati/Walikota  se-Sumatera Barat.

Yth. Saudara-Saudara Jurnalistik, Pengusaha, serta hadirin yang berbahagia

 

        Pertama sekali marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya kita dapat hadir ditempat ini dalam keadaan sehat wal’afiat untuk mengikuti acara “Seminar Krisis Keuangan Global dan Pengaruhnya di Sumatera Barat”.      Selanjutnya kami mengucapkan ”selamat datang di Ranah Minang” kepada Ibu Menteri Keuangan yang telah berkenan hadir dan akan memberikan paparan dan pandangan serta solusi terkait Krisis Keuangan Global dalam forum ini nantinya. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada seluruh peserta baik dari unsur Bupati/Walikota se Sumatera Barat, Jurnalistik, Kadin yang turut hadir pada kesempatan ini.

Seminar ini merupakan hal yang bernilai strategis dan sangat dibutuhkan guna menjaring masukan mengenai antisipasi dampak krisis ekonomi global dari berbagai aspek, sekaligus guna menjaring berbagai solusi dalam mengantisipasi pengaruh negatif krisis ekonomi global secara komprehensif.

 

Hadirin peserta seminar yang berbahagia………

Sebagaimana yang telah kita ketahui, krisis yang melanda ekonomi Amerika Serikat saat ini diakibatkan oleh krisis subprime mortgage, dimana lembaga keuangan yang memberikan fasilitas finansial kehilangan likuiditas, yang mengakibatkan kehancuran berantai sejumlah lembaga keuangan dan bursa-bursa saham dunia serta merambah ke sektor riil dan non-keuangan seluruh perekonomian dunia tanpa kecuali.

Berbeda dengan krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1998 yang permasalahnya hanya terletak pada likuiditas, sehingga kebijakan easy money cukup efektif dilakukan. Namun krisis global saat ini tidak hanya  dari sisi likuiditas namun disebabkan lebih dari 200 institusi keuangan yang dulu bertindak sebagai pemberi pinjaman (mortgage lenders) di AS telah bangkrut. Akibatnya atmosfir ekonomi dipenuhi dengan ketidakpastian, padahal dalam aktivitas ekonomi ketidakpastian merupakan sesuatu yang tidak bisa diukur dan dikendalikan, yang akhirnya berbuntut pada rasa ketidakpercayaan. Akibatnya ekonomi dunia akan terseret menuju global economy slowdown,  apalagi sumbangan Amerika Serikat dalam perekonomian dunia masih sangat dominan, yakni  mencapai 25,5 persen.

Hadirin peserta seminar yang berbahagia………

Krisis di Amerika Serikat menunjukkan betapa rentannya globalisasi moneter, yang mengakibatkan pertumbuhan ekonomi hampir semua negara harus dikoreksi ke bawah.  Pada Januari lalu, IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia untuk tahun 2008 dari 4,8 persen menjadi hanya 3,7 persen. Dengan kecenderungan pertumbuhan ekonomi dunia yang melambat, maka volume perdagangan dunia pun niscaya akan melemah. Tahun ini pertumbuhan perdagangan dunia diproyeksikan turun menjadi 5,6 persen dari 9,2 persen tahun 2006 dan 6,8 persen tahun 2007. Krisis ini diperkirakan akan berjalan selama dua tahun, karena titik terburuk ekonomi Amerika dan Eropa belum tercapai.

Kondisi ini barang tentu akan mempengaruhi terhadap perekonomian Indonesia. Bahkan IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini hanya 6,1 persen. Sementara itu, Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia (ADB) di dalam publikasi mereka sama-sama mematok sebesar 6,0 persen. Bahkan beberapa kalangan memprediksi hanya mencapai 5,5 persen.

Hadirin peserta seminar yang berbahagia………

Kondisi krisis financial global ini mau tidak mau akan berimbas juga ke Sumatera Barat sebagai salah satu Provinsi dalam NKRI. Meskipun dari sisi perkembangan ekspor pada kisaran Januari–September 2008, Sumatera Barat menunjukkan kinerja yang semakin membaik dengan kenaikan dari tahun sebelumnya mencapai  125,06 persen.

Namun bila dilihat dari kontribusi ekspor terbanyak yang berasal dari golongan minyak nabati terutama Sawit mencapai 57,92 persen, serta golongan Karet/produk Karet mencapai 26,30 persen dan pada sisi lain kedua komditi ini mengalami kejatuhan harga sekitar 50 hingga 80.00 persen,  membuat krisis global akan berdampak terhadap  kontribusi ekspor perkebunan dari Sumatera Barat  yang akhirnya akan berdampak terhadap pengangguran petani perkebunan terutama pada dua komiditi tersebut.  Apalagi negara tujuan ekspor tertinggi bagi Sumatera Barat, adalah India (30,61 persen), Amerika Serikat (23,49 persen), yang diikuti Singapura, Belanda dan China yang hampir keseluruhannya juga mengalami dampak krisis global.

Dari sisi Impor pada periode Januari–September 2008 menunjukkan bahwa golongan pupuk memberikan kontribusi tertinggi mencapai 62,27 persen dari total nilai impor.  Sehingga  dengan adanya kenaikan harga dollar terhadap rupiah yang bahkan beberapa minggu terakhir ini mencapai Rp 12.000/dollar, akan berdampak terhadap kenaikan harga pupuk dan kenaikan harga bahan kebutuhan pokok, yang juga akan mempengaruhi terhadap daya tukar (komsumsi) petani dan masyarakat.

Perkiraan laju pertumbuhan ekonomi di Sumatera Barat untuk tahun 2009 berdasarkan kondisi di atas perlu ditinjau kembali.  Laju pertumbuhan ekonomi sebagaimana yang ditetapkan dalam RPJM sebesar 6,7 persen tahun 2009 diperkirakan akan dapat terkoreksi hingga mencapai 0,5 – 0,7 digit.  Apalagi angka inflasi yang terjadi di Sumatera Barat mencapai dua digit yakni sekitar 12,45 persen (Januari– November tahun 2008), Bahkan Inflasi year-on-year menjadi 13,64 persen. Tingginya angka inflasi ini juga akan mempengaruhi terhadap daya beli masyarakat yang semakin terbatas.

Hadirin peserta seminar yang berbahagia………

  Apabila kondisi krisis global ini tidak teratasi, dengan sendirinya akan berdampak terhadap melemahnya daya beli dan investasi masyarakat, turunnya kinerja ekspor dan impor, meningkatnya angka pengangguran,  meningkatnya harga komoditas pangan,  serta sektor riil akan mengalami kenaikan biaya produksi, transportasi dan bahan baku, dan  bank akan lebih hati-hati dalam menyalurkan kredit karena naiknya risiko usaha.

Dampak negatif perlambatan ekonomi global bagi perekonomian Sumatera Barat memungkinkan untuk diperkecil, namun diperlukan upaya-upaya kongkrit guna mengatasi dampak krisis  tersebut, dengan melalukan berbagai stimulus perekonomian, terutama untuk menjaga pertumbuhan konsumsi rumah tangga dengan menggerakkan sektor riil sebagai pendorong pertumbuhan yang disertai dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang memadai.  Karena sektor riil merupakan representasi mesin produksi lokal yang mampu sebagai stabilisasi ekonomi daerah dan menjadi sasaran pokok penguatan fundamental perekonomian.

 Hal paling penting adalah peran partisipasi aktif ekonomi kerakyatan dalam menggerakkan berbagai sektor ekonomi potensi,  melakukan pemberdayaan usaha kecil menengah (UKM), serta mendukung industri kreatif dan penerapan tekhnologi tepat guna.  Sedangkan guna mengantisipasi dampak penurunan harga komoditi perkebunan,  diperlukan industri hilir dan pelaksanaan kegiatan padat karya serta diserfikasi pertanian.

Pada sisi lain guna mempertahankan laju ekspor dari Sumatera Barat, kita akan bersama-sama mendorong kepada ekspansi jalur distribusi pada pasar Asia  dan Timur Tengah, yang diperkirakan masih bertahan dalam menghadapi krisis yang terjadi di AS.  Kita juga akan mendorong industri-industri yang ada untuk meningkatkan inovasi guna mencapai efisiensi sehingga tetap mampu bersaing.  Disamping itu kepada pengusaha diharapkan melakukan konsolidasi kedalam, dengan melaksanakan perombakan aktifitas dari pola menunggu (counter) menjadi pemburu (hunter).

Upaya lainnya adalah melalui penjaringan aspirasi dan masukan-masukan baik dari berbagai stakeholder seperti Pemerintah Pusat, pemerintah Daerah, pelaku bisnis, masyarakat serta teknokrat, misalnya melalui pelaksanaan seminar yang secara bersama-sama kita ikuti pada saat ini, guna membahas mengenai potensi dampak krisis ekonomi global dari berbagai aspek khususnya dampaknya terhadap Sumatera Barat, sehingga dapat menjaring berbagai solusi dan masukan-masukan.

Hadirin peserta sosialisasi yang berbahagia………

Demikian beberapa pokok pikiran yang dapat saya sampaikan pada acara  “Seminar Krisis Keuangan Global dan Pengaruhnya di Sumatera Barat”.  Saya yakin, kita semua menaruh harapan agar seminar ini dapat memberikan manfaat yang dapat kita rasakan bersama. Untuk itu, kehadiran, partisipasi dan kontribusi aktif Bapak, Ibu, Saudara-saudara dalam pertemuan ini sangat dihargai. Akhirnya marilah kita berserah diri kepada Allah SWT, semoga kita diridhoi dan diberi petunjuk bagi setiap langkah yang kita lakukan dan tetap dalam keadaan sehat walafiat,  penuh semangat untuk meningkatkan pembangunan yang berkualitas. Terima kasih atas perhatian yang diberikan, wabillahi taufiq walhidayah Wassalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

GUBERNUR SUMATERA BARAT

GAMAWAN FAUZI


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: