Oleh: vanrenov | Oktober 14, 2010

Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat program Bansos untuk membangun kewirausahaan bagi Kelompok Tani

Badan Ketahanan pangan sejak tahun 2009 telah membangun program bantuan sosial yang bertujuan untuk meningkatkan harga beras petani pada saat panen raya, dan memotifasi petani untuk menyiapkan cadangan pangan masyarakat sebagai antisipasi kerawanan pangan di lingkungannnya.

Dalam bantuan sosial tersebut petani membagi bantuan tersebut dalam bentuk tiga kegiatan 1) Pembangunan gudang kelompok sebagai tempat cadangan pangan dan penyedia stok dalam rangka proses

1. Latar Belakang

Ketahanan pangan menjadi salah satu prioritas dalam pembangunan baik wilayah maupun nasional. Alasan penting yang melandasi adalah adanya kesadaran dari semua komponen bangsa atas pentingnya ketahanan pangan yaitu: (i) akses atas pangan yang cukup dan bergizi bagi setiap penduduk merupakan salah satu pemenuhan hak azasi manusia; (ii) konsumsi  pangan dan gizi yang cukup merupakan basis bagi pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas; (iii) ketahanan pangan merupakan basis bagi ketahanan ekonomi, bahkan bagi ketahanan wilayah maupun nasional suatu negara berdaulat.

Ketahanan pangan  dicirikan dengan adanya ketersediaan pangan yang cukup dan merata di seluruh wilayah, sekaligus kemampuan setiap rumah tangga mengkunsumsi pangan yang cukup untuk hidup sehat dan produktif. Namun demikian masih ada beberapa daerah dimana masyarakatnya tidak mampu mengakses pangan yang cukup.  Hal ini disebabkan karena kondisi wilayahnya miskin ataupun pendapatan mereka yang tidak mencukupi untuk memperoleh akses  terhadap pangan.

Disisi lain wilayah sentra produksi pertanian khususnya padi memiliki topografi yang beragam,  ketersediaan sarana prasarana yang mendukung sektor tersebut (produksi, pengolahan, penyimpanan) bervariasi dari satu wilayah dengan wilayah lain, waktu panen yang tidak bersamaan di beberapa wilayah, dan iklim yang kurang mendukung pada saat tanam maupun panen raya, sehingga petani, kelompoktani (Poktan) maupun Gabungan Kelompoktani (Gapoktan) selalu dihadapkan pada berbagai masalah: (a) keterbatasan modal usaha untuk melakukan kegiatan pengolahan, penyimpanan, pendistibusian/pemasaran; (b) posisi tawar petani yang rendah pada saat panen raya yang bersamaan dengan datangnya hujan, sehingga petani terpaksa menjual produknya dengan harga rendah kepada para pelepas uang (pedagang perantara); (c)  keterbatasan akses pangan (beras) saat paceklik yang disebabkan karena tidak memiliki cadangan pangan yang cukup.

Dampak dari ketidakberdayaan petani, Poktan dan Gapoktan dalam mengolah, menyimpan dan mendistribusikan/memasarkan hasil produksinya dapat menyebabkan: (a) ketidakstabilan harga di wilayah sentra produksi pertanian pada saat terjadi musim panen, dan (b) kekurangan pangan pada saat musim paceklik.

Guna mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh petani, Poktan, Gapoktan di daerah sentra produksi padi perlu campur tangan pemerintah melalui Kementerian Pertanian untuk mengalokasikan dana APBN guna memperkuat modal dan kemampuan Gapoktan sehingga mempunyai posisi tawar yang tinggi, mempunyai nilai tambah produk pertanian, dan mempunyai akses terhadap pangan.

  1. 1. Tujuan

Tujuan dari pemberian bantuan dana Penguatan-LDPM ke Gabungan Kelompoktani (Gapoktan) adalah:

  1. Memperkuat modal usaha Gapoktan dan unit-unit usaha yang dikelolanya (distribusi/pemasaran dan cadangan pangan) untuk dapat mengembangkan sarana penyimpanan, melakukan pembelian hasil produksi petani anggotanya, dan tersedianya cadangan pangan disaat menghadapi musim paceklik serta tercapainya stabilisasi harga pangan di tingkat petani saat panen raya;
  2. Mengembangkan usaha ekonomi di wilayah dengan: (i) melakukan musyawarah rencana kegiatan bersama anggota kelompoknya, (ii) melakukan pembelian-penyimpanan-pengolahan-pemasaran sesuai rencana, kebutuhan anggota, dan kebutuhan pasar, serta mempunyai nilai tambah bagi khususnya unit usaha Gapoktan yang mengelolanya;
  3. Memperluas jejaring kerja sama pemasaran yang saling menguntungkan dengan mitra usaha di dalam maupun di luar wilayahnya.
  1. Kondisi Saat ini

Propinsi Sumatera Barat merupakan daerah sentra produksi Gabah dengan jumlah produksi pada tahun 2009 mencapai 2.150.790 ton ( angka sementara) dengan luas tanam pada tahun 2009 seluas 468.501 Ha,  dengan pemyebarannya seperti tabel dibawah ini.

Tabel 1. Perkembangan Tanaman Padi Tahun 2009 di Sumatera Barat

 

No. Kab/Kota

 

Tanam (Ha) Panen (Ha) Produktivitas Produksi
  Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des
         
         
1 Kab. Pasaman 49,843 45,657 44.25 202,044
2 Kab. Pasaman Barat 27,004 24,268 38.58 93,632
3 Kab. Lima Puluh Kota 45,211 42,180 46.71 197,016
4 Kab. Agam 56,889 52,787 51.03 269,382
5 Kab. Tanah Datar 42,360 38,946 54.66 212,877
6 Kab. Padang Pariaman 47,919 47,861 50.60 242,176
7 Kab. Solok 57,110 55,045 47.22 259,896
8 Kab. Solok Selatan 23,506 20,741 51.12 106,028
9 Kab. Swl Sijunjung 19,811 18,599 40.12 74,619
10 Kab. Dharmasraya 10,907 10,131 44.42 45,001
11 Kab. Pesisir Selatan 54,105 51,122 46.77 239,108
12 Kota Payakumbuh 5,450 5,105 45.32 23,135
13 Kota Bukittinggi 771 769 57.59 4,429
14 Kota Padang Panjang 1,770 1,600 48.72 7,795
15 Kota Padang 13,713 14,023 54.34 76,207
16 Kota Solok 2,954 3,057 58.41 17,857
17 Kota Sawahlunto 2,836 2,218 41.63 9,233
18 Kab. Mentawai 75 222 33.60 746
19 Kota Pariaman 6,267 5,211 47.23 24,609
Sumatera Barat 468,501 439,542 47.91 2,105,790

 

Dari tabel perkembangan produksi beras provinsi sumatera barat diatas untuk  19 kabupaten /Kota disumatera barat telah ditetapkan 12 Kabupaten/Kota yang termasuk daerah sentra produksi, dan 7 Kabupaten/kota masuk klasifikasi daerah minus.

Pada Tahun 2009 Propinsi Sumatera Barat telah memperoleh dana bantuan Penguatan P-LDPM dari anggaran APBN sebesar Rp. 6.150.000.000 (enam milyar seratus lima puluh juta rupiah) yang dialokasikan kepada 41 Gapoktan di 12 Kabupaten/Kota yaitu Kabupaten Pesisir Selatan, Solok, Sijunjung, Tanah Datar, Padang Pariaman, Agam, Lima Puluh Kota, Pasaman, Pasaman Barat, Dharmasraya, Solok Selatan dan Kota Padang.

Pada Tahun 2010 untuk tahap pengembangan Propinsi Sumatera Barat memperoleh dana sebesar Rp. 3.075.000.000 (tiga milyar tujuh puluh lima juta rupiah) yang dialokasikan kepada 41 Gapoktan tahap penumbuhan Tahun 2009 dan untuk tahap penumbuhan memperoleh dana sebesar Rp. 1.200.000.000 yang dialokasikan kepada 8 Gapoktan. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa dana P-LDPM yang dilakokasikan di Sumatera Barat dari tahun 2009 s/d tahun 2010 baru sekitar Rp. 10.425.000.000 yang diberikan kepada 49 Gapoktan.

Berdasarkan jumlah distribusi dana LDPM sejak tahun 2009 sampai sekarang  yang tersebar pada  masing-masing gapoktan yang terdapat pada 12 kabupaten/Kota daerah sentra hanya mencapai 5% atau 49 Gapoktan dari 776 Gapoktan untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 2. Data Kabupaten /kota Pelaksana kegiatan P-LDPM

Provinsi Sumatera Barat

 

No. Kab/Kota Jumlah Gapoktan Jumlah Gapoktan Penerima LDPM 2009 Jumlah Gapoktan Penerima LDPM 2010
Gapoktan Kelompok tani Gapoktan
           
1 Kab. Pasaman 71 5 18
2 Kab. Pasaman Barat 81 3 15 1
3 Kab. Lima Puluh Kota 79 4 46
4 Kab. Agam 80 3 44 1
5 Kab. Tanah Datar 94 6 54 1
6 Kab. Padang Pariaman 85 2 8
7 Kab. Solok 72 6 66 1
8 Kab. Solok Selatan 28 1 10
9 Kab. Sijunjung 21 3 40 1
10 Kab. Dharmasraya 77 3 18 1
11 Kab. Pesisir Selatan 47 2 11 1
12 Kota Padang 31 3 19 1
Sumatera Barat 776 41 349 8

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: